Inspiratif! Beny Rahim, Dosen Psikologi UNJA Ajak Mahasiswa Pahami Equal Employment Opportunity di Era Transformasi Digital

Dalam rangkaian kegiatan Jambi Health Scientific Competition (JAMHESIC) ke-6 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi (11-12/11/2025), salah satu sesi symposium menarik perhatian para peserta dengan topik yang sangat relevan dengan dinamika dunia kerja masa kini, yaitu “Selection Process Nowadays: Equal Employee Opportunity Exists in the Workplace.”

Sesi ini menghadirkan Beny Rahim, M.Psi., Psikolog, seorang akademisi dosen psikologi Universitas Jambi sekaligus praktisi psikologi yang dikenal aktif dalam isu-isu psikologi industri dan organisasi. Kegiatan ini dipandu dengan hangat dan penuh energi oleh Ayu Ulivia, M.Pd, dosen Psikologi Universitas Jambi yang berperan sebagai moderator. Dalam suasana ilmiah namun tetap interaktif, sesi ini berhasil membuka ruang refleksi bagi mahasiswa dan peserta untuk memahami lebih dalam pentingnya kesetaraan kesempatan di tempat kerja modern.

Dalam paparannya, Beny Rahim menyoroti bagaimana proses seleksi karyawan di era saat ini tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga menuntut adanya kesetaraan akses bagi seluruh individu tanpa memandang latar belakang gender, ras, usia, atau kondisi fisik. Ia menjelaskan bahwa prinsip Equal Employment Opportunity (EEO) menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan adil. Menurutnya, EEO bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi merupakan bentuk penghargaan terhadap potensi manusia dan keberagaman yang menjadi kekuatan organisasi.

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan bahwa perusahaan yang menerapkan EEO dengan konsisten akan mendapatkan banyak manfaat, seperti meningkatnya produktivitas, kreativitas tim yang lebih tinggi, serta iklim kerja yang lebih sehat. Beny Rahim juga menyinggung tentang tantangan yang masih dihadapi banyak organisasi dalam menegakkan prinsip kesetaraan ini, mulai dari bias tidak sadar (unconscious bias) dalam proses rekrutmen hingga kurangnya pemahaman manajerial terhadap regulasi yang melindungi hak-hak tenaga kerja.

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan mengena, Beny Rahim mengajak para peserta untuk melihat proses seleksi sebagai bagian dari transformasi budaya organisasi menuju keadilan dan keberlanjutan. Ia juga menekankan bahwa kesetaraan tidak berarti menyeragamkan semua orang, tetapi memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi dan kompetensinya.

“EEO adalah tentang bagaimana kita memberi ruang yang adil untuk semua orang menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujarnya dalam sesi tersebut.

Moderator Ayu Ulivia, M.Pd turut memperkaya diskusi dengan memancing pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta, terutama terkait bagaimana penerapan EEO dapat diintegrasikan sejak tahap awal rekrutmen hingga pengembangan karier.

Beny Rahim menanggapi dengan memberikan contoh konkret penerapan sistem seleksi berbasis kompetensi dan evaluasi objektif yang kini mulai diterapkan di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional.

Kegiatan ini menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian JAMHESIC ke-6 yang mengusung tema besar “Transforming Global Health through Innovation, Interprofessional Collaboration, and Entrepreneurship.” Melalui sesi ini, FKIK Universitas Jambi berhasil menghadirkan perspektif yang segar bahwa isu kesetaraan kesempatan kerja juga memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan mental dan kesejahteraan tenaga kerja.

Simposium ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran etis di kalangan mahasiswa sebagai calon profesional masa depan. Pesan utama yang mengemuka dari sesi ini adalah bahwa kesetaraan di tempat kerja bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata dalam membangun organisasi yang berdaya saing global. Dengan pemahaman yang lebih luas terhadap prinsip EEO, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memperjuangkan keadilan dan keberagaman di berbagai sektor profesi.

Melalui forum ilmiah ini, FKIK Universitas Jambi menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga individu yang memiliki sensitivitas sosial dan pemikiran kritis terhadap isu-isu kemanusiaan. Kehadiran Beny Rahim, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber menjadi momen berharga yang menginspirasi banyak pihak untuk terus memperjuangkan nilai kesetaraan, baik di lingkungan akademik maupun dunia kerja yang semakin kompleks.

Sesi ini pun ditutup dengan antusiasme tinggi dari peserta, disertai ajakan dari moderator agar mahasiswa terus memperdalam pemahaman tentang psikologi industri dan pentingnya keadilan di tempat kerja. Melalui dialog terbuka ini, semangat untuk membangun budaya kerja yang inklusif dan menghargai perbedaan semakin terasa nyata di antara civitas akademika Universitas Jambi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *