Dalam ajang ilmiah bergengsi tingkat internasional, 4th International Conference on Psychology and Health Issues (ICoPHI 2025) Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Negeri Padang , yang digelar dengan tema “Digital Health and Local Wisdom: Advancing Psychological and Health Care for a Sustainable Future”, dosen muda dari Universitas Jambi, Ayu Ulivia, M.Pd., berhasil mencatat prestasi membanggakan. Ia dinobatkan sebagai Best Presenter setelah memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Bridging the Blind Spot: A Psychological Exploration of Parents’ and Teachers’ Perspectives on Children’s Gadget Use.”
Konferensi internasional ini menjadi wadah pertemuan para akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang psikologi dan kesehatan dari berbagai negara. Tahun ini, topik besar yang diangkat menyoroti pentingnya integrasi antara kesehatan digital dan kearifan lokal untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Dalam forum yang penuh gagasan inovatif itu, Ayu Ulivia tampil dengan penuh percaya diri, menyampaikan hasil penelitian yang relevan dengan tantangan zaman yaitu bagaimana anak-anak menggunakan gawai dalam keseharian mereka dan bagaimana peran orang tua serta guru dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat.
Dalam presentasinya, Ayu menyoroti fenomena yang kini kian nyata kegagalan pembatasan penggunaan gawai pada anak bukan disebabkan oleh kurangnya kesadaran dari orang tua atau guru, melainkan karena adanya psychological misalignment, atau ketidaksesuaian psikologis antara pihak-pihak yang terlibat. Menurut hasil penelitiannya, para orang tua seringkali memahami risiko penggunaan gawai berlebihan, namun pendekatan yang dilakukan tidak selalu sejalan dengan kebutuhan emosional anak atau struktur yang diterapkan oleh sekolah.
“The failure of gadget restriction stems from psychological misalignment, not lack of awareness,” demikian salah satu kutipan utama dari hasil riset Ayu. Pernyataan ini menyoroti akar masalah yang selama ini sering terabaikan. Ia menambahkan bahwa solusi efektif tidak cukup hanya dengan membuat aturan atau kampanye kesadaran, melainkan harus ada sinergi antara empati di lingkungan keluarga dan sistem yang terstruktur di sekolah.
Lebih jauh, Ayu menjelaskan bahwa collaboration requires empathy (parents) and structure (schools) in balance. Artinya, orang tua perlu memahami kebutuhan emosional anak dalam konteks penggunaan gawai, sementara sekolah berperan membentuk disiplin dan panduan yang konsisten. Keseimbangan keduanya diyakini mampu menjembatani kesenjangan yang selama ini menjadi “titik buta” dalam pengasuhan dan pendidikan anak di era digital.
“Bridging the gap can foster healthier digital habits in children,” tuturnya dengan tegas dalam sesi presentasi yang disambut antusias oleh peserta konferensi. Melalui penelitian ini, Ayu berupaya mengajak para pendidik dan orang tua untuk berpikir ulang tentang cara mereka mengarahkan anak dalam berinteraksi dengan dunia digital. Ia menekankan bahwa pendekatan psikologis yang tepat dapat membantu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan produktif.
Pencapaian Ayu Ulivia di ajang ICoPHI 2025 ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa harum nama Universitas Jambi di kancah internasional. Dukungan dan ucapan selamat pun mengalir deras dari rekan-rekan sejawatnya di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, khususnya dari Program Studi Psikologi.
Salah satu rekan dosen, Verdiantika Annisa, M.Psi., Psikolog, menyampaikan rasa bangganya, “Selamat Ayu Ulivia sebagai best presenter seminar internasional UNP. Prestasi ini menunjukkan kualitas akademik dosen Universitas Jambi yang luar biasa.”
Ucapan serupa datang dari Dessy Pramudiani, M.Psi., Psikolog, yang juga menyampaikan kekagumannya dengan gaya penuh semangat, “Keren betuulll, mantep! Ini bukti bahwa dosen psikologi Unja mampu bersaing di level global.”
Pencapaian ini menjadi momentum penting bagi pengembangan ilmu psikologi di Universitas Jambi. Melalui karya ilmiahnya, Ayu Ulivia tidak hanya memperkaya khasanah penelitian psikologi anak dan pendidikan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pemahaman masyarakat tentang tantangan teknologi dalam tumbuh kembang anak.
Ayu menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh rekan-rekan dosen dan institusinya. “Saya sangat berterima kasih atas doa, dukungan, dan apresiasi dari keluarga besar Psikologi Universitas Jambi. Prestasi ini bukan hanya milik saya, tapi juga hasil dari kerja sama, motivasi, dan lingkungan akademik yang selalu mendorong untuk terus berkembang,” ujarnya dengan senyum bahagia.
Lebih lanjut, Ayu juga menekankan bahwa prestasi ini menjadi motivasi baginya untuk terus melakukan penelitian yang relevan dengan isu-isu psikologi kontemporer. Menurutnya, tantangan era digital memerlukan pemahaman baru yang tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga keseimbangan emosional, sosial, dan kultural yang memengaruhi perilaku manusia.
Sebagai dosen muda yang aktif di bidang psikologi pendidikan, Ayu Ulivia dikenal memiliki minat penelitian pada dinamika hubungan orang tua-anak, literasi digital, dan kesejahteraan psikologis di era teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada edukasi digital sehat bagi keluarga dan sekolah.
Keberhasilan Ayu di ICoPHI 2025 juga menjadi cerminan dari semangat kolaborasi lintas disiplin yang semakin kuat di Universitas Jambi. Dengan dukungan kampus yang terus mendorong riset dan publikasi internasional, capaian ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak dosen dan mahasiswa untuk berkiprah di level global.
Konferensi ICoPHI sendiri dikenal sebagai salah satu forum akademik internasional yang bergengsi di bidang psikologi dan kesehatan, di mana para peserta mempresentasikan hasil riset terbaru yang relevan dengan tantangan global. Tahun ini, tema Digital Health and Local Wisdom menjadi sorotan penting dalam upaya menggabungkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai lokal yang berakar pada budaya dan kearifan masyarakat.
Melalui keberhasilannya sebagai Best Presenter, Ayu Ulivia tidak hanya menunjukkan kualitas penyampaian ilmiah yang unggul, tetapi juga kedalaman analisis dan relevansi penelitiannya terhadap isu global. Dengan mengangkat topik tentang penggunaan gawai pada anak-anak dari perspektif psikologi, ia berhasil menghadirkan penelitian yang kontekstual, menyentuh, dan aplikatif.
Prestasi ini menjadi simbol dari dedikasi dan kerja keras para akademisi Indonesia di panggung dunia. Dalam konteks yang lebih luas, karya Ayu Ulivia menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan dan pengasuhan anak di era digital tidak cukup hanya dengan aturan dan pengawasan, melainkan membutuhkan pemahaman yang empatik dan pendekatan psikologis yang seimbang.
Sebagaimana disampaikan Ayu di akhir presentasinya, “Teknologi adalah alat, bukan pengganti hubungan manusia. Tugas kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata, dengan dukungan orang tua dan guru yang saling memahami.”
Dengan semangat itu, prestasi Ayu Ulivia di ajang ICoPHI 2025 menjadi inspirasi nyata bagi dunia pendidikan dan psikologi Indonesia bahwa melalui riset, empati, dan dedikasi, kita bisa menjembatani kesenjangan yang sering terabaikan, dan bersama membentuk masa depan digital yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
