Jambi, 8 November 2025 — Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi menggelar kuliah praktisi bertajuk “The Competency Shift: When the World Changes, Competence Must Too” bersama Supriadi Hardianto, M.Psi., Psikolog, praktisi profesional dari Comma Pause & Space Consulting.
Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa dari mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi serta Perencanaan Karier.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Jurusan Psikologi FKIK UNJA, Dessy Pramudiani, M.Psi., Psikolog, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen jurusan untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Topik ini kami pilih karena sangat kontekstual dengan realitas dunia kerja saat ini. Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat mengaktualisasikan diri dalam menghadapi perubahan kompetensi yang begitu cepat,” ujarnya.

Relevansi Kuliah Praktisi bagi Mahasiswa Psikologi
Sebelum pemaparan materi dimulai, M. Tri Firia Chandra, M.Psi., Psikolog, selaku koordinator kegiatan, menegaskan pentingnya kegiatan kuliah praktisi sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia industri.
“Perubahan kompetensi tidak lagi terjadi setiap sepuluh tahun, melainkan dalam hitungan dua tahun atau bahkan lebih cepat. Karena itu, kegiatan ini menjadi gerbang pengetahuan bagi mahasiswa agar siap menghadapi dunia profesional yang dinamis,” jelasnya.
Kuliah praktisi ini juga dihadiri oleh dosen-dosen Jurusan Psikologi UNJA, khususnya yang tergabung dalam bidang peminatan Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Antusiasme peserta terlihat tinggi selama sesi berlangsung, baik dari mahasiswa maupun dosen yang mengikuti secara daring.
Dari VUCA ke FLUX: Dunia yang Tak Lagi Sama
Dalam pemaparannya, Supriadi Hardianto menyoroti pergeseran besar dalam dunia kerja modern. Ia menjelaskan bahwa paradigma lama yang dikenal dengan istilah VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous) kini telah bergeser ke era FLUX (Frequent, Leadership Cruelty, Unexpected, Xcelerated) sebuah kondisi dunia yang ditandai oleh perubahan terus-menerus, kompetisi yang keras, disrupsi tak terduga, dan percepatan eksponensial dalam berbagai bidang.
“VUCA adalah tentang bertahan dari badai, sementara FLUX adalah tentang menguasai aliran perubahan dan menghindari seleksi alam korporat,” ungkap Supriadi.
Ia menekankan bahwa di dunia FLUX, adaptabilitas dan kemampuan belajar ulang (unlearning dan relearning) menjadi kunci utama untuk bertahan. Dalam konteks psikologi, hal ini berarti mahasiswa dan calon psikolog tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan teknologi, data, dan empati manusia dalam praktik profesional.
Tsunami AI dan Kompetensi Masa Depan
Salah satu isu sentral yang dibahas adalah peran kecerdasan buatan (AI) dalam mengubah lanskap pekerjaan. Supriadi menguraikan bahwa AI kini mampu mengambil alih banyak tugas dasar seperti skoring alat tes psikologi, chatbot terapi berbasis CBT, hingga analisis sentimen karyawan dalam skala besar.
“Jika keahlian kita berhenti pada tugas-tugas teknis, maka kita sedang bersaing dengan mesin,” tegasnya. Oleh karena itu, psikolog masa depan perlu menguasai kompetensi hibrida yang mencakup literasi data, pemahaman organisasi, dan kecerdasan sosial-emosional.
Ia juga memperkenalkan konsep psikolog T-shaped profesional yang memiliki kedalaman keahlian di bidang psikologi namun juga keluasan lintas disiplin seperti business acumen, AI literacy, dan organizational design.
“Spesialis saja tidak cukup. Dunia kini membutuhkan psikolog yang bisa berpikir sistemik, mengelola perubahan, dan berperan strategis dalam organisasi,” tambahnya.
Well-Being dan G.R.I.T: Kompetensi yang Tak Lekang Waktu
Selain isu teknologi, Supriadi menyoroti pentingnya well-being karyawan sebagai indikator kinerja organisasi. Menurutnya, isu kesehatan mental di tempat kerja kini telah menjadi persoalan strategis yang berdampak langsung pada produktivitas dan keberlanjutan bisnis.
Dalam konteks pengembangan diri, ia memperkenalkan konsep G.R.I.T. (Growth Mindset, Resilience, Integrity, Tenacity) sebagai kompetensi abadi yang akan selalu relevan, bahkan di tengah percepatan perubahan.
“AI punya data, tapi manusia punya kebijaksanaan. Integritas, empati, dan daya juang adalah hal yang tak bisa digantikan oleh mesin,” ujarnya menutup sesi utama.
Refleksi dan Penutup
Sesi diskusi yang dimoderatori oleh Imam Kurniawan, M.Psi., Psikolog berlangsung interaktif, dengan mahasiswa mengajukan pertanyaan seputar kesiapan diri menghadapi perubahan dan strategi membangun kompetensi adaptif di dunia kerja.
Moderator kemudian menutup kegiatan dengan refleksi singkat mengenai pentingnya keberanian untuk terus belajar di tengah perubahan cepat.
“Kita tidak bisa menghindari perubahan, tetapi kita bisa menyiapkan diri untuk menjadi bagian dari perubahan itu,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Psikologi Universitas Jambi tidak hanya memperoleh wawasan baru tentang dinamika kompetensi di era FLUX, tetapi juga belajar untuk berpikir strategis dan siap menjadi psikolog masa depan yang relevan, berintegritas, dan berdaya adaptif tinggi.
