Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi (FKIK UNJA) turut mengambil bagian dalam langkah besar yang dirancang untuk membentuk ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif. Pada Senin, 28 Juli 2025, sejumlah dosen Psikologi UNJA hadir mengikuti kegiatan Pelatihan Dosen Pembimbing dan Instruktur Lapangan Interprofessional Education (IPE) Berbasis Komunitas yang dilaksanakan di Auditorium Lantai 6 FKIK UNJA. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan bagian dari komitmen kuat untuk berkontribusi dalam membangun masa depan pendidikan dan layanan kesehatan berbasis kerja sama antarprofesi.
Pelatihan ini diikuti oleh para dosen dari berbagai program studi di lingkungan FKIK UNJA, termasuk dari prodi Psikologi yang belakangan ini menunjukkan geliat dan kepedulian yang tinggi terhadap penerapan pendekatan interprofesional. Di tengah deretan peserta yang terdiri dari tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, apoteker, dan ahli kesehatan masyarakat, kehadiran para dosen psikologi membawa warna tersendiri dalam dinamika pelatihan. Mereka datang dengan perspektif psikososial yang selama ini kerap terpinggirkan dalam pendekatan medis yang lebih teknis, namun justru menjadi kunci penting dalam praktik kesehatan yang utuh dan berorientasi pada pasien sebagai manusia seutuhnya.
Salah satu peserta dari Prodi Psikologi yang turut aktif dalam pelatihan ini adalah Nurul Hafizah, M.Psi., Psikolog. Dalam pandangannya, pelatihan ini merupakan langkah krusial dalam membentuk pemahaman bersama di antara tenaga pendidik lintas profesi, sekaligus menciptakan budaya akademik yang menghargai peran dan kontribusi masing-masing bidang. Nurul meyakini bahwa IPE bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa belajar bersama, tetapi juga tentang bagaimana para dosen mampu menyatukan paradigma, membangun dialog, dan merancang pembelajaran yang membumi pada kebutuhan masyarakat.
“Sering kali kita bekerja dalam satu sistem layanan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal bagaimana profesi lain berpikir, menilai, dan memutuskan. Itu bukan karena tidak mau bekerja sama, tetapi karena ruang untuk berproses bersama selama ini belum tersedia secara sistematis. Pelatihan seperti ini membuka ruang itu,” ujar Nurul saat ditemui di sela kegiatan.
Menurutnya, pendekatan IPE berbasis komunitas menjadi sangat relevan, terutama dalam konteks Jambi sebagai wilayah dengan keragaman sosial dan tantangan kesehatan masyarakat yang kompleks. Ia menilai bahwa integrasi peran psikolog dalam tim layanan kesehatan primer adalah kebutuhan yang tak terelakkan, terlebih ketika isu kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis masyarakat mulai mendapat perhatian yang lebih luas. Oleh karena itu, kehadiran dosen psikologi dalam pelatihan ini diharapkan dapat menjadi titik awal untuk menyusun model pembelajaran kolaboratif yang tidak hanya menekankan aspek medis dan biologis, tetapi juga dimensi psikologis, sosial, dan budaya.
Nurul menambahkan bahwa keikutsertaannya dalam pelatihan ini memberinya pemahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana sistem pendidikan kesehatan dapat dirancang untuk melahirkan profesional yang bukan hanya ahli di bidangnya masing-masing, tetapi juga mampu bekerja dalam tim interdisipliner. Ia mengakui bahwa selama ini, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam mendorong mahasiswa lintas program studi untuk belajar dan bekerja bersama secara sejajar. Salah satunya adalah kesenjangan pemahaman peran dan hierarki profesi yang masih kental di banyak institusi pendidikan.
“Bukan perkara mudah menyatukan mahasiswa kedokteran, keperawatan, psikologi, dan farmasi dalam satu meja diskusi. Mereka datang dari latar belakang pembelajaran yang berbeda, dengan bahasa keilmuan yang juga berbeda. Tapi justru di situlah pentingnya pelatihan seperti ini untuk membekali para dosen agar bisa menjadi jembatan pemahaman dan fasilitator proses belajar yang setara dan saling menghargai,” ungkapnya.
Dalam sesi pelatihan yang dipandu oleh dua narasumber nasional, Dr. dr. Amelia Dwi Fitri, M.Med.Ed dan dr. Nyimas Natasha Ayu Shafira, M.Pd.Ked, para peserta diajak untuk mendalami konsep IPE dalam praktik pelayanan kesehatan, terutama bagaimana mendesain kegiatan pembelajaran berbasis komunitas yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. Diskusi berlangsung dinamis, dan di sanalah terlihat bagaimana para dosen dari berbagai latar belakang saling belajar untuk menanggalkan egosektoral dan mulai membangun bahasa bersama.
Nurul Hafizah menyebut bahwa salah satu hal yang paling berkesan baginya dalam pelatihan ini adalah ketika peserta diajak untuk memetakan kembali peran dosen pembimbing dan instruktur lapangan. Menurutnya, peran tersebut tidak boleh hanya bersifat teknis atau administratif, tetapi harus menjadi agen perubahan yang mampu memfasilitasi transformasi pola pikir mahasiswa dari pendekatan profesi tunggal ke orientasi kolaboratif. Ia mengusulkan agar dalam modul pembelajaran IPE ke depan, pendekatan psikologi seperti komunikasi terapeutik, empati profesional, serta pemahaman lintas budaya dan nilai masyarakat lokal dapat diintegrasikan secara eksplisit.
Baginya, psikologi tidak bisa lagi berdiri di pinggir dalam ekosistem layanan kesehatan. Justru, dalam konteks pendidikan berbasis komunitas, pendekatan psikologi menjadi alat yang sangat dibutuhkan untuk menghubungkan mahasiswa dan masyarakat, serta menjembatani kesenjangan antara sistem kesehatan formal dengan realitas sosial di lapangan. Ia berharap bahwa FKIK UNJA dapat menjadi pelopor dalam penerapan IPE yang inklusif dan berbasis konteks lokal, serta membuka ruang yang lebih luas bagi dosen psikologi untuk terlibat dalam desain kurikulum, pelatihan lapangan, hingga penelitian kolaboratif lintas profesi.
Lebih lanjut, Nurul juga menekankan pentingnya keberlanjutan dari pelatihan ini. Ia mengusulkan agar hasil pelatihan tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan, melainkan diikuti dengan pembentukan tim kerja lintas prodi untuk menyusun strategi implementasi IPE yang konkret dan terukur. Selain itu, ia berharap akan ada pendampingan lanjutan bagi dosen pembimbing agar mampu mengevaluasi dinamika kelompok mahasiswa interprofesional secara objektif dan konstruktif.
Sebagai penutup wawancaranya, Nurul menyampaikan harapan bahwa pelatihan seperti ini akan menjadi budaya baru dalam pengembangan dosen di lingkungan FKIK UNJA. Ia membayangkan sebuah ekosistem kampus di mana setiap program studi berjalan berdampingan, saling belajar, saling mendukung, dan bersatu dalam misi besar mencetak lulusan tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga rendah hati, adaptif, dan kolaboratif dalam pelayanan masyarakat.
Kegiatan pelatihan ini, yang diakhiri dengan sesi diskusi dan penutupan pada siang hari, bukan sekadar momentum akademik, tetapi juga representasi dari semangat zaman. Di mana pendidikan kesehatan tidak lagi bisa berjalan dalam sekat-sekat profesi, tetapi harus dibangun atas dasar kolaborasi, komunikasi, dan komitmen bersama untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Dan di dalam semangat itu, para dosen psikologi FKIK UNJA hadir dan menyumbangkan warna baru yang memperkaya wajah pendidikan interprofesional berbasis komunitas di tanah Jambi.
