Empati di Balik Tembok: Dosen Psikologi Unja Latih Petugas Lapas Jadi Peer Counselor

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Jambi menjadi saksi hadirnya sebuah kegiatan yang memancarkan harapan dan perubahan (26-27/05/2025), dua dosen Psikologi Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dan Beny Rahim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjadi narasumber dalam kegiatan bertajuk “Psikoedukasi Dukungan Sosial bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)” dan “Pelatihan Peer Counselor bagi Petugas Lapas”.

Kegiatan ini merupakan hasil inisiasi dari komunitas RETAS (Rangkul Teman Tanpa Kekerasan), sebuah kelompok mahasiswa Psikologi Universitas Jambi yang aktif dalam kegiatan pengabdian terlahir dari mata kuliah Komunitas. Dengan semangat “psikologi untuk semua”, kegiatan ini bertujuan memperkuat aspek kesejahteraan psikologis WBP serta membekali petugas lapas dengan keterampilan dasar konseling sebaya.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ria Rahmawati, Kepala Seksi Bimbingan dan Pendidikan (Kasi Bindik) Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan apresiasi dan harapan besar terhadap kegiatan yang dinilai sangat relevan dan mendesak bagi pembinaan narapidana.

“Kami menyambut baik dan berterima kasih atas kehadiran para akademisi dari Universitas Jambi. Kehadiran Ibu Dessy dan Bapak Beny serta komunitas RETAS menjadi suntikan energi baru dalam proses pembinaan kami. WBP bukan hanya objek hukuman, tapi juga subjek pembangunan, dan itu membutuhkan pendekatan psikososial yang kuat,” ujar Ria dengan penuh semangat.

Ia juga menegaskan pentingnya dukungan sosial dalam proses reintegrasi sosial WBP pasca bebas, serta perlunya pembekalan petugas dengan kapasitas dasar konseling agar dapat menjadi pendamping yang lebih empatik dan solutif.

Hari pertama kegiatan difokuskan pada psikoedukasi dukungan sosial yang diikuti oleh puluhan WBP. Materi disampaikan dengan pendekatan partisipatif oleh Dessy Pramudiani, seorang psikolog sekaligus ketua jurusan psikologi Universitas Jambi.

Dengan gaya komunikatif dan penuh empati, Dessy membuka sesi dengan mengajak peserta merenungi pengalaman hidup, pentingnya hubungan interpersonal yang sehat, dan bagaimana dukungan sosial dapat menjadi “jembatan” untuk pulih dari trauma dan tekanan hidup.

“Manusia tidak diciptakan untuk sendiri. Di balik keterbatasan ruang gerak kalian saat ini, masih ada ruang-ruang yang bisa kita isi dengan makna ruang hati, ruang pikir, dan ruang harapan,” ujar Dessy yang disambut anggukan dan air mata dari beberapa peserta.

Sesi ini tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga melibatkan diskusi kelompok, permainan peran (roleplay), dan latihan refleksi. Salah satu kegiatan menarik adalah “Surat untuk Diri Sendiri”, di mana WBP menuliskan surat penuh harapan kepada diri mereka di masa depan. Banyak peserta yang mengungkapkan perasaan haru, diterima, dan termotivasi untuk berubah.

Hari kedua kegiatan berfokus pada pelatihan peer counselor bagi sekitar 10 petugas lapas, termasuk staf pembinaan dan pengamanan. Kegiatan ini dipandu oleh Beny Rahim, seorang psikolog yang juga dosen Universitas Jambi yang juga merupakan anggota dari Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Jambi.

Pelatihan ini bertujuan membekali petugas dengan kemampuan dasar mendengarkan aktif, empati, dan teknik dasar konseling sebaya. Dalam paparannya, Beny menekankan bahwa petugas lapas bukan hanya penjaga keamanan, tetapi juga fasilitator perubahan perilaku.

“Ketika kita mau mendengar, kita sedang memberi ruang bagi orang lain untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Peer counselor itu bukan ‘psikolog dadakan’, tapi teman yang tahu cara hadir tanpa menghakimi,” jelas Beny sambil memandu simulasi konseling.

Peserta pelatihan belajar mengenali dinamika psikologis WBP, memahami pentingnya batas profesional, serta melakukan praktik percakapan konseling singkat dalam studi kasus. Banyak peserta yang menyadari bahwa pendekatan keras tidak selalu efektif, dan pendekatan dialogis bisa membuka banyak pintu perubahan.

Salah satu petugas lapas, mengungkapkan pengalamannya dalam sesi:

“Selama ini saya pikir kalau WBP nangis, berarti mereka manja. Tapi setelah belajar mendengarkan, saya jadi sadar bahwa mereka juga punya luka dan ketakutan. Kami harus belajar jadi teman, bukan hanya penjaga.”

Kegiatan ini menjadi salah satu implementasi nyata dari pendekatan psikologi komunitas yang selama ini dikembangkan di Universitas Jambi. Dengan memahami konteks lokal dan kondisi sosial khas lapas, kegiatan ini mampu menyentuh aspek dalam pembinaan yaitu kesejahteraan psikologis.

Rion Nofrianda, M.Psi., Psikolog, dosen pendamping komunitas RETAS, dalam sambutannya menyampaikan filosofi dari kegiatan ini.

“RETAS itu bukan sekadar nama. Ia lahir dari semangat untuk meretas membuka jalan bagi psikologi yang tidak hanya tinggal di ruang kelas atau jurnal ilmiah, tapi hadir langsung di ruang-ruang kehidupan masyarakat, termasuk di balik jeruji.”

Rion juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan institusi negara seperti lapas, agar pembinaan narapidana tidak hanya mengandalkan pendekatan hukum, tetapi juga pendekatan psikososial dan edukatif yang berbasis empati.

Kegiatan dua hari ini mungkin tidak langsung mengubah struktur sistemik pemasyarakatan. Namun ia menjadi api kecil yang menyalakan harapan besar yang menunjukkan bahwa psikologi, ketika dibawa keluar dari tembok akademik, bisa menjadi alat pembebas yang sejati. Pembebas dari rasa tidak berharga, pembebas dari stigma, dan pembebas dari penjara batin yang tak kasat mata.

Dan pada akhirnya, ketika narasi-narasi ini tersebar ke luar, kita semua diingatkan bahwa setiap orang, bahkan mereka yang sedang menjalani masa pidana, berhak atas dukungan, pendidikan, dan harapan untuk berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *