Dalam suasana penuh nostalgia dan rasa bangga, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi periode 2017–2018 menyerahkan kenang-kenangan berupa satu unit speaker portable dan toa mini kepada Jurusan Psikologi Universitas Jambi. Penyerahan ini berlangsung khidmat namun hangat di ruang pertemuan jurusan, disaksikan oleh sejumlah mahasiswa aktif serta dosen-dosen psikologi.
Kenang-kenangan ini diserahkan langsung oleh Ketua HMJ Psikologi periode 2017–2018, Muhammad Ilham, M.Psi., Psikolog, kepada Koordinator Program Studi Psikologi, Rion Nofrianda, M.Psi., Psikolog, sebagai bentuk nyata kontribusi dan rasa terima kasih pengurus lama terhadap lembaga yang telah menempa mereka. Penyerahan ini bukan hanya simbolik, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang keberlanjutan semangat kemandirian dan profesionalisme organisasi mahasiswa.
“Kenang-kenangan ini memang sederhana secara bentuk, tapi besar secara makna,speaker dan toa ini mungkin hanya alat, tapi kami berharap bisa menjadi sumber suara yang menyatukan semangat adik-adik dalam berbagai kegiatan ke depan—baik akademik, sosial, maupun pengabdian”, ujar Ilham.
Ilham yang kini telah menjadi dosen psikologi Universitas Jambi serta psikolog profesional dan aktif dalam bidang pendidikan dan intervensi psikologis menyampaikan bahwa penyerahan kenang-kenangan ini merupakan bagian dari closing chapter kepengurusan mereka yang sudah lewat lebih dari tujuh tahun. Meski waktu telah berlalu, spirit pengabdian dan rasa memiliki terhadap jurusan tetap melekat kuat dalam benaknya.
“Salah satu prinsip yang kami pegang saat itu adalah: HMJ bukan sekadar organisasi, tapi rumah belajar, ladang amal, dan tempat tumbuh. Apa yang kami pelajari dalam rapat-rapat kecil, konflik internal, pengambilan keputusan, hingga menyusun laporan keuangan dan menjalankan wirausaha mandiri semua itu kini menjadi bekal nyata dalam profesi kami. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan secara fungsional sekaligus simbolik bagi generasi selanjutnya”, kenangnya.
Ilham juga mengungkapkan bahwa dana untuk membeli speaker dan toa ini tidak diambil dari dana hibah fakultas atau kampus maupun dari iuran anggota, melainkan berasal dari laba kegiatan dan kewirausahaan HMJ Psikologi periode 2017–2018. Kala itu, HMJ aktif mengelola beberapa unit usaha kecil seperti penjualan merchandise, laba pelaksaan event, hingga hasil jualan produk dalam acara-acara kampus.
“Waktu itu, kami berpikir: bagaimana caranya agar organisasi tidak melulu bergantung pada proposal dan hibah? Maka kami bersepakat memulai wirausaha mahasiswa sebagai model kemandirian, dan alhamdulillah, meskipun kecil, tapi hasilnya bisa kita gunakan untuk hal yang lebih besar seperti hari ini, “ kata Ilham dengan penuh semangat.
Kemandirian ini menurutnya bukan sekadar soal keuangan, tapi juga membentuk pola pikir pengurus agar lebih proaktif, kreatif, dan solutif. Nilai-nilai ini yang kemudian menjadi bagian dari karakter organisasi HMJ Psikologi Universitas Jambi yang terus diwariskan ke pengurus-pengurus berikutnya.
Menerima secara simbolis kenang-kenangan tersebut, Koordinator Prodi Psikologi Universitas Jambi, Rion Nofrianda, M.Psi., Psikolog, menyampaikan rasa haru dan apresiasi yang mendalam.
“Ini bukan hanya soal barang, tapi tentang narasi sejarah, tentang dedikasi yang terekam dalam bentuk konkret,” ucap Rion.
“Saya mendengar sendiri bagaimana dinamika HMJ Psikologi periode 2017–2018 berjalan, bagaimana mereka belajar mengelola konflik, memimpin program, hingga menjaga relasi antarmahasiswa. Dan hari ini, mereka tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga memberi inspirasi.”
Menurut Rion, kenang-kenangan tersebut akan sangat bermanfaat untuk menunjang berbagai kegiatan mahasiswa, baik kegiatan outdoor seperti pengabdian masyarakat dan psikoedukasi, maupun kegiatan internal seperti rapat terbuka, diskusi publik, hingga kegiatan perkenalan mahasiswa baru.
“Speaker dan toa ini akan menyuarakan semangat kalian, bahkan ketika kalian tidak lagi hadir secara fisik, kenang-kenangan ini adalah warisan suara, warisan semangat,” tuturnya.
Sementara itu, Fadzlul, S.Psi., M.Psi., Psikolog, salah satu dosen di lingkungan Psikologi Universitas Jambi, turut memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai bahwa penyerahan kenang-kenangan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk konkret dari pendidikan karakter dan jiwa kepemimpinan mahasiswa.
“Dalam konteks pendidikan tinggi, peran organisasi mahasiswa sangat strategis. Ia menjadi ruang latihan kepemimpinan, ruang refleksi nilai, serta tempat tumbuhnya semangat kolektif,” ungkap Fadzlul.
“Apa yang dilakukan HMJ Psikologi 2017–2018 adalah bentuk ideal dari bagaimana organisasi mahasiswa dapat bertransformasi menjadi agen nilai, bukan sekadar pelaksana program.”
Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi dan penelusuran jejak-jejak historis HMJ. Menurutnya, apa yang dilakukan hari ini bisa menjadi materi pembelajaran dan inspirasi bagi mahasiswa baru, bahkan dapat menjadi bagian dari narasi institusional dalam membangun identitas psikologi Universitas Jambi.
“Saya menyarankan agar kenang-kenangan ini juga disertai dengan dokumentasi tertulis atau digital mengenai perjalanan HMJ saat itu, karena warisan terbaik adalah warisan yang bisa dibaca dan direfleksikan oleh generasi selanjutnya,” tambahnya.
Dan begitulah, speaker dan toa mini yang tampak biasa itu kini menjadi saksi dari sebuah warisan nilai, cinta almamater, dan semangat kemandirian mahasiswa Psikologi Universitas Jambi yang tak akan pernah padam.
Ketua Jurusan Psikologi Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, M.Psi., Psikolog, turut menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif luar biasa dari HMJ Psikologi periode 2017–2018 ini. Dalam sambutannya, Dessy menyatakan bahwa pemberian kenang-kenangan ini tidak hanya memperlihatkan kepedulian alumni terhadap jurusan, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai yang ditanamkan selama masa studi benar-benar tumbuh dan berakar dalam diri para mahasiswa.
“Saya merasa bangga dan terharu. Ini adalah momen langka di mana alumni tidak hanya hadir dengan nostalgia, tapi juga meninggalkan jejak kontribusi nyata. Kenang-kenangan ini bukan soal nilainya, tapi tentang pesan moral yang dikandung bahwa organisasi mahasiswa bisa berjalan secara mandiri, penuh integritas, dan tetap berdampak bahkan setelah masa kepengurusan selesai,” ujar Dessy dengan mata berbinar.
