Auditorium Lantai 6 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi dipadati mahasiswa pada Selasa (10/01/2026). Sejak pagi, ratusan mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Jambi telah memenuhi seluruh kursi yang tersedia untuk mengikuti Studium Generale bertema “Cultivating Mental Health Support System in the Academic Setting”. Antusiasme terlihat jelas dari suasana ruangan yang penuh hingga ke barisan belakang, mencerminkan tingginya ketertarikan mahasiswa psikologi terhadap isu kesehatan mental di lingkungan akademik.
Kegiatan ilmiah ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Jerson L. Marino dari Universitas Batangas, Filipina. Kehadiran akademisi dari luar negeri tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa psikologi untuk memperoleh perspektif global mengenai pengembangan sistem dukungan kesehatan mental di perguruan tinggi.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Jurusan Psikologi Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa mahasiswa psikologi memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk memahami isu kesehatan mental secara komprehensif, tidak hanya sebagai teori, tetapi juga sebagai praktik nyata di lingkungan kampus.
“Kita belajar psikologi bukan hanya untuk memahami konsep, tetapi untuk menghadirkan dampak. Kampus harus menjadi ruang yang aman bagi setiap mahasiswa untuk bertumbuh, belajar, dan berkembang secara sehat. Oleh karena itu, membangun sistem dukungan kesehatan mental di lingkungan akademik bukan pilihan, melainkan kebutuhan,” ujarnya di hadapan para peserta.
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa psikologi diharapkan mampu menjadi pelopor literasi kesehatan mental di kampus. “Sebagai calon psikolog dan ilmuwan psikologi, saudara sekalian memiliki peran strategis. Mulailah dari hal sederhana: peka terhadap kondisi teman, membuka ruang dialog, dan tidak menghakimi,” tambahnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat Dr. Dwi Noerjoedianto, SKM., M.Kes, didampingi Sekretaris Jurusan M. Ridwan, S.KM., M.P.H, Koordinator Program Studi Farmasi apt. Puspa Dwi Pratiwi, S.Farm., M.Pharm.Sci, Ketua Tim Kerja Manajemen Sumber Daya Manusia FKIK UNJA Arnarita, SE, MM, serta para dosen Psikologi Universitas Jambi. Kehadiran beberapa pengelola dan dosen tersebut menunjukkan dukungan penuh terhadap penguatan isu kesehatan mental di lingkungan kampus.
Dipandu oleh moderator Ayu Ulivia, M.Pd., dosen Psikologi UNJA, sesi pemaparan materi berlangsung komunikatif dan interaktif. Dr. Jerson L. Marino memulai paparannya dengan menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan, tetapi kondisi kesejahteraan yang memungkinkan individu menyadari potensi diri, mampu mengatasi tekanan, dan berfungsi secara optimal dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Ia kemudian menguraikan berbagai tantangan kesehatan mental yang kerap muncul di lingkungan akademik, seperti tekanan akademik, kecemasan terhadap masa depan, tuntutan prestasi, hingga rasa kesepian dan isolasi sosial. Menurutnya, budaya kompetitif yang tidak diimbangi dengan dukungan emosional dapat meningkatkan risiko stres dan burnout pada mahasiswa.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sistem dukungan kesehatan mental yang terstruktur di perguruan tinggi. Sistem tersebut mencakup kebijakan institusional yang jelas, layanan konseling yang mudah diakses, edukasi literasi kesehatan mental, serta keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa. Peran pimpinan institusi dinilai krusial dalam menciptakan kebijakan yang ramah terhadap kesejahteraan mahasiswa.
Ia juga menyoroti peran dosen sebagai figur signifikan dalam kehidupan akademik mahasiswa. Sikap empati, komunikasi terbuka, serta apresiasi terhadap proses belajar mahasiswa dapat menjadi bentuk dukungan yang berdampak besar. Sementara itu, mahasiswa sendiri didorong untuk mengembangkan dukungan sebaya atau peer support sebagai langkah preventif dalam menjaga kesehatan mental di lingkungan kampus.
Dalam sesi strategi, ia memaparkan sejumlah langkah konkret seperti integrasi edukasi kesehatan mental dalam kurikulum, pembentukan konselor sebaya, pelatihan regulasi emosi, serta kampanye anti-stigma. Meski demikian, ia mengakui adanya hambatan seperti keterbatasan sumber daya dan masih kuatnya stigma terhadap isu kesehatan mental. Untuk itu, diperlukan komitmen jangka panjang dan kolaborasi seluruh sivitas akademika.
Sesi diskusi berlangsung hangat. Mahasiswa psikologi aktif mengajukan pertanyaan mengenai implementasi sistem dukungan di tingkat program studi, mekanisme deteksi dini, hingga peluang pengembangan layanan konseling berbasis mahasiswa. Suasana forum terasa hidup dan reflektif, menunjukkan bahwa tema yang diangkat menyentuh kebutuhan nyata mereka sebagai bagian dari komunitas akademik.
Hingga kegiatan berakhir, tidak satu pun kursi kosong terlihat di auditorium. Antusiasme mahasiswa psikologi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin menguat di kalangan generasi akademik muda. Studium Generale ini ruang pembelajaran kolektif tentang bagaimana kampus dapat menjadi lingkungan yang lebih suportif, inklusif, dan peduli terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswanya.
